MATERI LOGIKA MATEMATIKA | MATEMATIKA

MATERI LOGIKA MATEMATIKA | MATEMATIKA

A.    Pengertian Logika Matematika
Logika Matematika atau Logika Simbol  ialah logika  yang menggunakan bahasa Matematika, yaitu dengan menggunakan lambang-lambang atau simbol- simbol.
Keuntungan atau kekuatan bahasa simbol adalah: ringkas, univalent/bermakna tunggal, dan universal/dapat dipakai dimana-mana.
B.     Pernyataan
Kalimat adalah rangkaian kata yang disusun menurut aturan bahasa yang mengandung arti. Pernyataan adalah kalimat yang mempunyai nilai benar atau salah, tetapi tidak sekaligus benar dan salah (pernyataan disebut juga preposisi, kalimat deklaratif). Benar diartikan ada kesesuaian antara apa yang dinyatakan dengan keadaan yang sebenarnya. Perhatikan beberapa contoh berikut!
1.   Al-Quran adalah sumber hukum pertama umat Islam
2.   4 + 3 = 8
3.   Rapikan tempat tidurmu!
Contoh nomor 1 bernilai benar, sedangkan contoh nomor 2 bernilai salah, dan keduanya adalah pernyataan. Kalimat 3 di atas tidak mempunyai nilai benar atau salah, sehingga bukan pernyataan.
a)         Kalimat Terbuka
Adalah kalimat yang belum tentu bernilai benar atau salah. Kalimat terbuka biasanya ditandai dengan adanya variabel (peubah). Jika variabelnya diganti dengan konstanta dalam semesta yang sesuai maka kalimat itu akan menjadi sebuah pernyataan.
Variabel (Peubah) adalah lambang yang menunjukkan anggota yang belum tentu dalam semesta pembicaraan, sedangkan konstanta adalah lambang yang menunjukkan anggota tertentu dalam semesta pembicaraan. Pengganti variabel yang menyebabkan kalimat terbuka menjadi pernyataan yang bernilai benar, disebut selesaian atau penyelesaian.
Contoh kalimat terbuka :
1. yang duduk di bawah pohon itu cantik rupanya
2. x + 2 = 8
b)         Pernyataan Majemuk
Logika merupakan sistem matematika artinya memuat unsur-unsur yaitu pernyataan-pernyataan dan operasi-operasi yang didefinisikan. Operasi-operasi yang akan kita temui berupa kata sambung logika :
1)   Merupakan lambang operasi untuk negasi
2)   Merupakan lambang operasi untuk konjungsi
3)    Merupakan lambang operasi untuk disjungsi
4)   Merupakan lambang operasi untuk implikasi
5)   Merupakan lambang operasi untuk biimplikasi
C.    Kata Hubung Kalimat
1.   Ingkaran atau Negasi
Ingkaran/Negasi dari suatu pernyataan adalah pernyataan lain yang diperoleh dengan menambahkan kata ”tidak” atau menyisipkan kata ”bukan” pada pernyataan semula. Ingkaran dari suatu pernyataan p disajikan dengan lambang atau –p atau ~p, dan dibaca: ”tidak p”. Bila peryataan p bernilai benar, maka ingkarannya bernilai salah dan sebaliknya.
 Contoh Soal :
Misalkan pernyataan
 p : Tembakau yang mengandung nikotin.
Ingkaran penyataan p
 ~ p : Tidak benar bahwa tembakau mengandung nikotin.

Dengan tabel kebenaran
2.   Konjungsi
Pernyataan p dengan q dapat digabung dengan kata hubung logika “dan” sehingga membentuk pernyataan majemuk “p dan q” yang disebut konjungsi. Konjungsi “p dan q” dilambangkan dengan “p Ù q”.  Konjungsi dua pernyataan p dan q bernilai benar hanya jika kedua pernyataan komponennya bernilai benar. Dan jika salah satu atau kedua pernyataan komponennya salah, maka konjungsi itu salah.
Dengan tabel kebenaran


Contoh Soal :
Jika, p : Ima anak pandai
q : Ima anak cekatan
maka p  q  : Ima anak pandai dan cekatan
Pernyataan p  q bernilai benar jika Ima benar-benar anak pandai dan benar-benar anak cekatan.
3.   Disjungsi/ Alternasi
Pernyataan p dengan q dapat digabung dengan kata hubung logika “atau” sehinggamembentuk pernyataan majemuk “p atau q” yang disebut disjungsi. Disjungsi p atau q dilambangkan dengan “p Ú q”. Dalam kehidupan sehari-hari, kata “atau” dapat berarti salah satu atau kedua-duanya, dapat pula berarti salah satu tetapi tidak kedua-duanya.
Berdasarkan pengertian di atas, dua buah pernyataan yang dihubungkan dengan ”atau” merupakan disjungsi dari kedua pernyataan semula. Dari pengertian kata “atau” di atas maka muncul dua macam disjungsi yaitu sebagai berikut.
a)      Disjungsi inklusif, yaitu dua pernyataan yang bernilai benar apabila paling sedikit satu dari keduanya bernilai benar yang diberi simbol “". Untuk disjungsi inklusif dua pernyataan p atau q ditulis p  q. sebagai contoh sekarang perhatikan pernyataan berikut ini, “Andi seorang siswa yang pintar atau seorang atlit berbakat”. Pernyataan itu akan menimbulkan penafsiran “Andi seorang siswa yang pintar, atau seorang atlit yang berbakat, mungkin kedua-duanya”. Pernyataan dengan tafsiran seperti itu merupakan contoh disjungsi inklusif. Untuk contoh yang lain perhatian contoh berikut ini.
1)      Persegi memiliki empat sisi atau empat sudut.
2)      Adi membawa pensil atau bolpoin.
Tabel kebenaran disjungsi inklusif di berikan sebagai berikut.


b)      Disjungsi eksklusif
Disjungsi eksklusif, yaitu dua pernyataan bernilai benar apabila hanya satu dari dua pernyataan bernilai benar yang diberi simbol “”. Disjungsi eksklusif dua pernyataan p dan q ditulis p  q. Sekarang perhatikan pernyataan sebelumnya lagi, “Andi seorang siswa yang pintar atau seorang atlit berbakat”. Pernyataan itu akan menimbulkan penafsiran “Andi seorang siswa yang pintar, atau seorang atlit yang berbakat, tetapi tidak kedua-duanya (dipilih salah satu)”. Pernyataan dengan tafsiran seperti itu merupakan contoh disjungsi eksklusif. Untuk contoh yang lain perhatikan contoh berikut ini.
1)      Adika lahir di Bali atau di Surabaya
2)      Dua garis pada satu bidang sejajar atau berpotongan.
Tabel kebenaran disjungsi ekslusif di berikan sebagai berikut.

Catatan : Jika dalam suatu soal tidak diberikan keterangan, maka disjungsi yang dimaksud adalah disjungsi inklusif.
4.   Implikasi
Implikasi “jika p maka q” dilambangkan dengan “Þ q”. Dalam implikasi p  q, p disebut hipotesa (anteseden) dan q disebut konklusi (konsekuen). Bernilai benar jika anteseden salah atau konsekuen benar, anteseden dan konsekuen sama-sama benar, dan anteseden dan konsekuen salah, dan bernilai salah jika antesedennya bernilai benar, sedangkan konsekuennya salah.
Dengan tabel kebenaran


Contoh soal:
Jika, p : Matahari bersinar
q : udara terasa hangat           
Jadi, p Þ q :  “Jika matahari bersinar maka udara terasa hangat”,
Jadi, bila kita tahu bahwa matahari bersinar, kita juga tahu bahwa udara terasa hangat. Berdasarkan pernyataan diatas, maka untuk menunjukkan bahwa udara tersebut hangat adalah cukup dengan menunjukkan bahwa matahari bersinar atau matahari bersinar merupakan syarat cukup untuk udara terasa hangat. Sedangkan untuk menunjukkan bahwa matahari bersinar adalah perlu dengan menunjukkan udara menjadi hangat atau udara terasa hangat merupakan syarat perlu bagi matahari bersinar. Karena udara dapat menjadi hangat hanya bila matahari bersinar.
Dari suatu Implikasi Þ q dapat dibentuk pernyataan majemuk :
Konvers, Invers, dan Kontraposisi
Dari pernyataan berbentuk implikasi dapat kita turunkan pernyataan-pernyataan baru yang disebut invers, konvers, dan kontraposisi.
Ingkaran dari Implikasi Konvers, Invers dan Kontraposisi (Husein: 3013)
a)      Ingkaran Konvers: ~ (Þ q) º (q Ù ~ p)
b)      Ingkaran Invers : ~(~ p Þ~ qº ~Ù q
c)      Ingkaran Kontraposisi: ~(~ q Þ~ pº ~Ù p
5.   Biimplikasi atau Bikondisional
Biimplikasi “p jika dan hanya jika q” dilambangkan dengan “p Û q”. Biimplikasi bernilai benar apabila anteseden dan konsekuen kedua-duanya bernilai benar atau kedua-duanya bernilai salah. Jika tidak demikian maka biimplikasi bernilai salah.
Dengan tabel kebenaran


Contoh Soal :
p : Saya memakai mantel
q : saya merasa dingin
maka, Û q = “Saya memakai mantel jika dan hanya jika saya merasa dingin”.
 Pengertian kita adalah “Jika saya memakai mantel maka saya merasa dingin” dan juga “Jika saya merasa dingin maka saya memakai mantel”. Terlihat bahwa jika saya memakai mantel merupakan syarat perlu dan cukup bagi saya merasa dingin, dan saya merasa dingin merupakan syarat perlu dan cukup bagi saya memakai mantel. Terlihat bahwa kedua peristiwa itu terjadi serentak.
D.    Negasi dari Pernyataan Majemuk
Berikut ini adalah pembahasan tentang negasi pernyataan majemuk, yaitu negasi suatu konjungsi, disjungsi, implikasi, dan biimplikasi
1.      Negasi Suatu Konjungsi
Karena suatu konjungsi p  q akan bernilai benar hanya jika kedua komponennya bernilai benar. Maka negasi suatu konjungsi p   q adalah ~p   ~q; sebagaimana ditunjukkan tabel kebenaran berikut:


Contoh Soal :
Jika, p : Ima anak pandai, dan
                        : Ima anak cekatan.
maka p  q  : Ima anak pandai dan cekatan
 Pernyataan p  q bernilai benar jika Ima benar-benar anak pandai dan benar-benar anak cekatan.
Apabila p  q jika di negasikan menjadi ~p   ~q
Maka ~p   ~q : Ima bukan anak pandai atau bukan cekatan
2.      Negasi Suatu Disjungsi
Negasi suatu disjungsi p   q adalah ~p   ~q sebagaimana ditunjukkan tabel kebenaran berikut:

Contoh soal :
Jika p : Persegi memiliki empat sisi
q : empat sudut
maka, p   q : Persegi memiliki empat sisi atau empat sudut
Apabila p   q dinegasikan menjadi ~p   ~q
Maka ~p   ~q : Persegi tidak memiliki empat sisi dan empat sudut
3.      Negasi Suatu Implikasi
Negasi suatu implikasi p  q adalah p~q seperti ditunjukkan tabel kebenaran berikut ini:


Dengan demikian, p  q ≡ ~[~ (p  q)] ≡ ~( p  ~q) ≡ ~p  q
Contoh soal:
Jika, p : Matahari bersinar
        q : udara terasa hangat         
Jadi, p Þ q :  “Jika matahari bersinar maka udara terasa hangat”
Apablia p  q dinegasikan menjadi p~q
Maka, p~q : matahari bersinar dan udara tidak terasa hangat
4.      Negasi Suatu Biimplikasi
Karena biimplikasi atau bikondisional p  q ekuivalen dengan
(p  q)  (q  p);
sehingga:
~ (p  q)  ≡ ~[(p  q)  (q  p)]
≡  ~[(~p  q)  (~q  p)]
≡  ~(~p  q)  ~(~q  p)]
≡  (p  ~q)  (q  ~p)
Contoh Soal :
p : Saya memakai mantel
q : saya merasa dingin
maka, Û q = “Saya memakai mantel jika dan hanya jika saya merasa dingin”.
Apabila Û q dinegasikan menjadi (p  q)  (q  p)
Maka, (p  q)  (q  p) : Jika saya memakai mantel maka maka saya merasa dingin dan jika saya merasa dingin maka saya memakai mantel.
E.     Kontradiksi, Tautologi, Ekuivalensi Pernyataan-Pernyataan Majemuk
1.      Pengertian Kontradiksi
Kontradiksi adalah sebuah pernyataan majemuk yang selalu salah untuk semua kemungkinan nilai kebenaran dari pernyataan-pernyataan komponennya.
Contoh pernyataan: “Junus masih bujang atau Junus bukan bujang” akan selalu bernilai benar tidak bergantung pada apakah junus benar-benar masih bujang atau bukan bujang.
Jika p : junus masih bujang, dan ~p : junus bukan bujang, maka pernyataan diatas berbentuk p  ~p. (coba periksa nilai kebenarannya dengan menggunakan tabel kebenaran). Setiap pernyataan yang bernilai benar, untuk setiap nilai kebenaran komponen-komponennya, disebut tautologi.
2.      Pengertian Tautologi
Tautologi adalah sebuah pernyataan majemuk yang selalu benar untuk semua kemungkinan nilai kebenaran dari pernyataan-pernyataan komponennya.
Contoh pernyataan: “Pratiwi seorang mahasiswa dan bukan mahasiswa”. Pernyataan ini selalu bernilai salah, tidak tergantung pada nilai kebenaran dari “Pratiwi seorang mahasiswa” maupun “Pratiwi bukan mahasiswa”.
Jika r : Pratiwi mahasiswa maka ~ r : Pratiwi bukan mahasiswa maka pernyataan di atas berbentuk r  ~ r (Coba periksa nilai kebenarannya dengan menggunakan tabel kebenaran).
Setiap pernyataan yang selalu bernilai salah, untuk setiap nilai kebenaran dari komponen-komponen disebut kontradiksi. Karena kontradiksi selalu bernilai salah,
maka kontradiksi merupakan ingkaran dari tautologi dan sebaliknya.
3.      Ekuivalensi Pernyataan – Pernyataan Majemuk

a)      implikasi          º kontraposisi : Þ q º ~ q Þ ~ p
b)      konvers            º invers            : Þ p º ~ p Þ ~ q
c)      ~(Ù q)           º ~ p Ú ~ q      : ingkaran dari konjungsi
d)     ~(Ú q)           º ~ p Ù ~ q      : ingkaran dari disjungsi
e)      ~(Þ q)          º p Ù ~ q          : ingkaran dari implikasi
f)       Þ q  º ~ p Ú q
g)      ~(Û q)         º (p Ù ~ q) Ú (q Ù ~ p) : ingkaran dari biimplikasi
F.     Hukum-Hukum Logika
1.      Sifat-Sifat Aljabar Proposisi 
2.      Hukum-hukum logika :


G.    Pernyataan Berkuantor
Pernyataan berkuantor artinya pernyataan yang mengandung ukuran kuantitas atau jumlah. Pernyataan berkuantor mengandung kata semua, setiap, tiap-tiap, ada, terdapat, beberapa dan sebagainya.
Terdapat dua macam kuantor, yaitu :
1. Kuantor Universal.
Disebut juga kuantor umum, ditandai dengan kata : “semua, setiap, tiap-tiap” atau ditulis ("x). Kuantor universal dilambangkan (x),p(x).
Contoh Soal :
a)      Semua siswa memakai seragam.
b)      Tiap-tiap kelas selalu menjaga kebersihan.
c)      Setiap manusia punya kesalahan.
d)     Setiap bilangan asli adalah bilangan cacah.

2.      Kuantor Eksistensial.
Disebut juga Kuantor Khusus, ditandai dengan kata : “ Ada, terdapat, beberapa “ atau ditulis ($x).  Kuantor eksistensial dilambangkan (x), p(x)
Contoh Soal:
a)      Ada siswa yang tidak mengerjakan PR.
b)      Terdapat bilangan prima yang genap.
c)      Beberapa kelas sedang tidak belajar.
H.    Ingkaran Pernyataan Berkuantor
1.      Ingkaran Kuantor Universal
Ingkaran dari pernyataan majemuk “untuk semua x, sehingga berlaku p(x)” adalah “ada x, sehingga berlaku bukan p(x)”,ditulis ~[("x), p(x)] º ($x), ~p(x)
Contoh Soal :
p : Semua kucing berwarna putih.
-p :  Tidak benar bahwa semua kucing berwarna putih.
-p : Ada kucing yang tidak berwarna putih.
Secara umum ingkaran dari semua adalah ada/beberapa, dan dilambangkan :
– ( (x),p(x))  (x), -p(x)
2.      Ingkaran Kuantor Eksistensial.
Ingkaran dari pernyataan “ada x, sehingga berlaku p(x)” adalah “untuk semua x, sehingga berlaku bukan p(x)”, ditulis ~[($x), p(x)] º ("x), ~p(x)
Contoh Soal:
p : Adaperempuan yang menjadi presiden.
-p : Tidak ada perempuan yang menjadi presiden.
-p : Semua perempuan tidak menjadi presiden.
Secara umum ingkaran dari Ada/beberapa adalah semua, dan dilambangkan :
– ((x), p(x)   (x),-p(x)
I.       Validitas Pembuktian
1.      Premis dan Argumen
Premis adalah pernyataan-pernyataan yang digunakan untuk menarik suatu kesimpulan,   sehingga suatu premis dapat berupa aksioma, hipotesa, definisi atau pernyataan yang sudah dibuktikan sebelumnya.
Sedang yang dimaksud dengan argumen adalah kumpulan kalimat yang terdiri atas satu atau lebih premis yang mengandung bukti-bukti (evidence) dan suatu (satu) konklusi. Konklusi ini selayaknya (supposed to) diturunkan dari premis-premis.
2.      Validitas Pembuktian (I)
a)      Modus Ponen
                        Premis 1          : p Þ q
                        Premis 2          : p
                        Konklusi          : q
Contoh Soal :
Premis 1          : Jika saya belajar, maka saya lulus ujian (benar)
Premis 2          : Saya belajar (benar)
Konklusi          : Saya lulus ujian (benar)
Baris pertama dari tabel kebenaran kondisional (implikasi) menunjukkan validitas dari bentuk argumen modus ponen.
b)      Modus Tolen :
                        Premis 1          : p Þ q
                        Premis 2          : ~ q
                        Konklusi          : ~ p        
Contoh Soal :
Premis 1          : Jika hari hujan maka saya memakai jas hujan (benar)
Premis 2          : Saya tidak memakai jas hujan (benar)
Konklusi          : Hari tidak hujan (benar)
Perhatikan bahwa jika p terjadi maka q terjadi, sehingga jika q tidak terjadi maka p tidak terjadi.
c)      Silogisma :
                        Premis 1          : p Þ q
                        Premis 2          : q Þ r
                        Konklusi          : p Þ r
Contoh :
Premis 1          : Jika kamu benar, saya bersalah (B)
Premis 2          : Jika saya bersalah, saya minta maaf (B)
Konklusi          : Jika kamu benar, saya minta maaf (B)
d)      Silogisma Disjungtif
                        Premis 1          : p Ú q
                        Premis 2          : ~ q
                        Konklusi          : p
Jika ada kemungkinan bahwa kedua pernyataan p dan q dapat sekaligus bernilai benar, maka argumen di bawah ini tidak valid.
                        Premis 1          : p  q
                        Premis 2          : q
                        Konklusi          : ~ p
Tetapi jika ada kemungkinan kedua pernyataan p dan q tidak sekaligus bernilai benar (disjungsi eksklusif), maka sillogisma disjungtif di atas adalah valid.
Contoh Soal :
1)      Premis 1    : Pengalaman ini berbahaya atau membosankan (B)
Premis 2    : Pengalaman ini tidak berbahaya (B)
 Konklusi   : Pengalaman ini membosankan (B)
2)      Premis 1    : Air ini panas atau dingin (B)
Premis 2    : Air ini panas (B)
Konklusi    : Air ini tidak dingin (B)
3)      Premis 1    : Obyeknya berwarna merah atau sepatu
Premis 2    : Obyek ini berwarna merah
Konklusi    : Obyeknya bukan sepatu (tidak valid)
e)      Konjungsi
                        Premis 1          : p
                        Premis 2          : q
                        Konklusi          : p Ù q
                        Artinya : p benar, q benar. Maka p Ù q benar.
f)       Tambahan (Addition)
                        Premis 1          : p
                        Konklusi          : p Ú q
Artinya : p benar, maka p Ú q benar (tidak peduli nilai benar atau nilai salah yang
dimiliki q).
g)      Dilema Konstruktif :
                        Premis 1          : (p Þ q) Ù (r Þ s)
                        Premis 2          : ~ q Ú ~ s
                        Konklusi          : ~ p Ú ~ r
J.      Bukti dalam Matematika
1.      Pembuktian Tidak Langsung
Pembuktian-pembuktian yang telah kita bicarakan di atas, merupakan pembuktian yang langsung. Suatu argumen adalah valid secara logis jika premis-premisnya bernilai benar dan konklusinya juga bernilai benar. Berdasarkan pemikiran ini, jika premis-premis dalam suatu argumen yang valid membawa ke konklusi yang bernilai salah, maka paling sedikit ada satu premis yang bernilai salah. Cara pembuktian ini disebut pembuktian tidak langsung atau pembuktian dengan kontradiksi atau reductio ad absurdum.
Contoh Soal :
Premis 1 : Semua manusia tidak hidup kekal (Benar)
Premis 2 : Chairil Anwar adalah manusia (Benar)
Buktikan bahwa “Chairil Anwar tidak hidup kekal” (premis 3) dengan melakukan     pembuktian tidak langsung.
Bukti :
Kita misalkan bahwa : Chairil Anwar hidup kekal (premis 4) (dan kita anggap bernilai benar).
Maka berarti : Ada manusia hidup kekal (premis 5).
Tetapi premis 5 ini merupakan negasi dari premis 1. Yang sudah kita terima kebenarannya.
Oleh karena itu premis 5 ini pasti bernilai salah.
Karena premis 5 bernilai salah maka premis 4 juga bernilai salah. Sebab itu premis 3 bernilai benar.
Jadi terbukti bahwa “Chairil Anwar tidak hidup kekal”.
Ringkasannya, kita dapat membuktikan bahwa suatu pernyataan bernilai benar, dengan menunjukkan bahwa negasi dari pernyataan itu salah. Ini dilakukan dengan menurunkan konklusi yang salah dari argumen yang terdiri dari negasi pernyataan itu dan pernyataan atau pernyataan-pernyataan lain yang telah diterima kebenarannya.





LATIHAN SOAL
1.      Amati pernyataan berikut ini:
p : Hari ini ahmad pergi ke toko buku
q : Hari ini ahmad pergi ke supermarket
Ubah kedua pernyataan diatas dengan logika matematika di bawah ini:
A. p Ù q
B. p Ù ~q
C. ~ p Ù q
D. ~ p Ù ~q
2.      Tentukan konvers, invers dan kontraposisi dari pernyataan di bawah ini:
"Jika hari ini hujan maka Wayan mengendarai mobil"
3.      Tentukan kesimpulan dari premis berikut:
Premis 1 : Jika Panji rajin belajar maka ia lulus ujian
Premis 2 : Jika Panji lulus ujian maka ia masuk universitas
4.      Tentukan negasi dari pernyataan:
a)      Bogor hujan lebat dan Jakarta tidak banjir.
b)      Hari ini tidak mendung dan Budi membawa payung
5.      Tentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dari (~p  r)  (~r  q)

JAWABAN

1.      Penyelesaian :
A. p Ù q :  Hari ini Ahmad pergi ke toko buku dan supermarket
B. p Ù ~q :  Hari ini Ahmad pergi ke toko buku dan tidak ke supermarket
C. ~ p Ù q : Hari ini Ahmad tidak pergi ke toko buku tetapi ke supermarket
D. ~p Ù ~q : Hari ini Ahmad tidak pergi ke toko buku dan tidak ke supermarket
2.      Penyelesaian :
Pernyataan di atas adalah implikasi p Þ q sehingga:
p : Hari ini hujan
q : Wayan mengendarai mobil
Konvers dari pernyataan tersebut adalah q Þ p
"Jika Wayan mengendarai mobil maka hari ini hujan"
Invers dari pernyataan di atas adalah ~Þ ~q
"Jika hari ini tidak hujan maka Wayan tidak mengendarai mobil"
Kontraposisi dari pernyataan tersebut adalah ~Þ ~p
"Jika Wayan tidak mengendarai mobil maka hari ini tidak hujan"
3.      Penyelesaian :
Kita gunakan prinsip silogisme
                        Premis 1          : p Þ q
                        Premis 2          : q Þ r
                        Konklusi          : p Þ r
Maka kesimpulannya adalah : "Juka Panji rajin belajar maka ia masuk universitas"
4.      Penyelesaian :
Ingkaran (negasi) dari konjungsi.
a)      Bogor hujan lebat dan Jakarta tidak banjir.
Ingat:
~(p  q ) º ~p  ~q
Sehingga ingkarannya adalah:
Bogor tidak hujan lebat atau Jakarta banjir.
Hari ini tidak mendung dan Budi membawa paying
Ingat:
~(p  q ) º  ~p  ~q
Sehingga ingkarannya adalah:
Hari ini mendung atau Budi tidak membawa paying
5.      Penyelesaian :

0 Response to "MATERI LOGIKA MATEMATIKA | MATEMATIKA"

Post a Comment

Komentar yang tidak sesuai dengan syarat & ketentuan kami, akan kami hapus